PENGARUH VARIASI KONSENTRASI
EKSTRAK ETANOLIK RIMPANG TEMULAWAK
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) DALAM SEDIAAN KRIM
TERHADAP SIFAT FISIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI
SKRIPSI
Oleh :
Irma Syarifah
035010175
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
SEMARANG
2007
Abstract
The thick extract can be gained by the maseration process using etanol 96%. The cream is made in five formulas, with 5%, 10%, 15%, 20% and 25% of the concentration of etanolic extract from wild ginger rhizome. The cream is tested for its physic characteristic like homogeneity, strew capacity, adhesion capacity, separation and antibacterial activity. The data is analysed statistically with non parametric method using Kruskal-Wallis test and continued with Mann-Whitney test with 95% trust.
The result shows that the extract etanolic of wild ginger’s rhizome in cream formula still homogenous. The variations influence the strew capacity. The strew capacity doesn’t relevant with the positive control. The variations don’t influence to the adhesion capacity. The adhesion capacity relevant with the positive control. The formula in 5% concentrate had separated from the 1st week until the 4th week. The formula that have 10% concentrate until 25%, have proved that they can impede the growth of Staphylococcus aureus, but only the concentration 10%, 20% and 25% which are related to the positive control (Ristra acne cream).
Key words : extract, wild ginger rhizome, physic characteristic, antibacterial.
Sebagai tanaman obat, nama temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) tidak asing lagi. Tanaman khas Indonesia ini memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan sebagai tanaman obat. Bahkan konon, tanaman ini memiliki keunggulan setara dengan ginseng Korea. Tidak heran, banyak orang menganggap, temulawak sebagai ginsengnya Indonesia (Anonim, 2006). Masyarakat Jawa Tengah biasanya memberikan ramuan ini kepada anak-anak yang susah makan, sebab disinyalir ramuan temulawak dapat meningkatkan nafsu makan. Bahkan, temulawak dipercaya juga sebagai jamu yang memperlambat proses penuaan, menghilangkan flek hitam di wajah, serta menjaga kelenturan tubuh. Selain itu, beragam penyakit dapat diobati dengan umbi tanaman ini, misalnya sakit limpa, sakit ginjal, sakit pinggang, asma, sakit kepala, masuk angin, maag, sakit perut, sembelit, sakit cangkrang, cacar air, sariawan, rematik.
Sementara itu, dalam dunia kosmetika, temulawak antara lain digunakan sebagai anti jerawat. Temulawak juga mempunyai sifat astringen. Daya antiseptik ringan yang dimiliki temulawak dapat membantu membersihkan kulit dari bakteri-bakteri patogen, sehingga radang jerawat berangsur-angsur membaik, mengering dan akhirnya sembuh (Afifah, 2003). Untuk memudahkan dalam penggunaan dan untuk mendapatkan khasiat yang diinginkan, temulawak perlu diformulasi dalam bentuk krim yang lebih praktis dalam penggunaan, dan akan memudahkan dalam pengujian sifat fisik dan aktivitas antibakteri selama penyimpanan serta keefektifan dalam pemakaian.
Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi ekstrak etanolik rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam sediaan krim terhadap sifat fisik dan aktivitas antibakterinya ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak etanolik rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam sediaan krim terhadap sifat fisik dan aktifitas antibakterinya.
- Untuk memberikan panduan ilmiah dan masukan yang cukup berarti bagi masyarakat dalam penggunaan bahan alami untuk pengobatan, sehingga efek terapi dari rimpang temulawak untuk kesehatan kulit eksternal, tidak hanya berdasarkan praduga atau pengalaman empiris saja, tetapi sudah terbukti secara ilmiah.
- Formula rimpang temulawak yang dibuat dalam sediaan topikal (krim) ditujukan untuk memudahkan masyarakat dalam penggunaannya.
1. Jerawat
Jerawat adalah penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada tempat predileksinya. Karena jerawat merupakan radang kulit, bentuknya seperti bisul kecil-kecil berisi benda semacam lemak, yang kadang-kadang berubah menjadi keras seperti sebutir lilin, kadang berisi nanah. Jerawat sering menghampiri kaum akil-baligh, umur 14-20 tahun. Jerawat terjadi akibat aktifnya kelenjar minyak di bawah kulit. Keaktifan ini dirangsang oleh hormon androgen (hormon pertumbuhan) yang meningkat saat seseorang dalam masa pubertas, dan kelenjar minyaknya pun sedang meningkat tinggi.
2. Temulawak
Secara taksonomi (klasifikasi berdasarkan ciri-ciri dan sifat fisik tumbuhan), temulawak dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub kelas : Zingiberidae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Nama umum/dagang : Temu lawak
Nama daerah
Sumatera : Temu lawak (melayu)
Sunda : Koneng gede
Jawa Tengah : Temu lawak
Madura : Temu latah (Hidayat dan Hutapea, 1991).
Rimpang temulawak mengandung saponin dan flavonoida, selain minyak atsiri (Hidayat dan Hutapea, 1991). Kandungan kurkumin dalam rimpang temulawak berkisar 1,6-2,2 persen, dihitung berdasarkan berat kering. Temulawak merupakan terna (herba) tahunan, berbatang semu, berwarna hijau dan cokelat gelap. Bunganya langsung keluar dari rimpang dengan bunga berwarna merah, kelopak hijau muda, pangkal bunga bagian atas berwarna ungu, dapat dilihat pada gambar 1a. Akar temulawak terdiri dari umbi akar yang berbentuk telur (silinder pusat berwarna kuning-tua dan kulit berwarna kuning-muda), dengan diameter sampai 6 cm. Akar temulawak dapat dilihat pada gambar 1b.
Gambar 1. Bunga dan daun temulawak (a), rimpang temulawak (b) (Anonim, 2007).
3. Tinjauan mikrobiologi
Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif, berbentuk bola dengan diameter 0,8 sampai 1 µm, terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, dalam bentuk rantai yang pendek dan kluster yang tidak teratur dan bersifat non motil. Staphylococcus aureus tidak bergerak, tidak berspora, dan mampu membentuk kapsul berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur, sebagaimana terlihat pada gambar 2. Staphylococcus aureus biasanya membentuk koloni abu-abu hingga kuning emas.
Klasifikasi bakteri Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut :
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus aureus (Rachdie, 2005).
Gambar 2. Staphylococcus aureus dengan Scan Electron Microscopy (Rachdie, 2005).
Kulit merupakan organ terbesar dan terberat sekali di dalam badan manusia. Kulit menutupi seluruh bagian tubuh dan beratnya sekitar 7% dari total berat tubuh. Hal inilah yang membuat kulit menjadi organ tubuh yang paling besar. Meskipun kulit terhitung sedikit lebih sederhana dari kebanyakan organ tubuh yang lainnya, kulit merupakan salah satu organ tubuh yang terstruktur dengan sangat baik.
5. Kosmetika
Pada prinsipnya kosmetika merupakan obat, namun tujuan pemakaiannya telah mengalami pergeseran bila dibandingkan dengan tujuan pemakaian obat-obatan pada umumnya. Kosmetika sendiri berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias (Wasitaatmadja, 1997). Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (Dwikarya, 2002).
6. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan, dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan.
7. Krim
Krim atau cream merupakan salah satu bentuk sediaan semi solid yang umum digunakan untuk perawatan kulit (skin care) dan perawatan rambut (hair care). Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi tentang emulsifikasi serta adanya perubahan tentang cara perawatan kecantikan, banyak jenis cream yang dapat dibuat untuk tujuan-tujuan tertentu. Kemajuan teknik dan jumlah variasi cream yang dimaksud di atas, tidak terlepas dari penemuan penemuan tentang kimia surfactan atau emulsifier yang mempunyai peranan penting dalam pembuatan cream.
8. Sterilisasi
Sterilisasi adalah suatu proses untuk mencapai suatu keadaan bebas dari mikroorganisme. Aseptis adalah suatu kondisi atau proses terkendali dimana tingkat kontaminasi mikroba dikurangi sampai pada tingkat dimana mikroorganisme dapat ditiadakan pada suatu produk selama pemrosesan (Lachman et al, 1986).
F. Hipotesis
Berbagai variasi konsentrasi ekstrak etanolik rimpang temulawak diduga dapat mempengaruhi sifat fisik sediaan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak dan mempengaruhi aktivitasnya terhadap antibakteri khususnya bakteri Staphylococcus aureus.
BAB II - CARA PENELITIAN
B. Jalannya Penelitian
1. Determinasi
2. Pembuatan ekstrak etanolik rimpang temulawak
3. Sterilisasi alat dan bahan.
4. Pembuatan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak
- Formula standart krim antiacne (Michael and Ash, 1977)

- Formula modifikasi krim ekstrak etanolik rimpang temulawak

5. Uji sifat fisik sediaan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak
- Homogenitas
- Daya sebar
- Daya lekat
- Pemisahan
Keterangan:
F = Persen pemisahan (%)
Hu = Tinggi endapan air
Ho = Tinggi mula-mula
6. Pembuatan media
- Media BHI
- Media agar darah
- Media mueller hinton
7. Uji aktivitas antibakteri dalam sediaan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak
- Cara pemeriksaan aktivitas antibakteri
- Inokulasi bakteri
- Pembenihan bakteri
Inokulasi : Media mueller hinton diinkubasi pada T 37oC 18-24 jam.
Pembacaan hasil : Setelah 18-24 jam diukur diameter hambatannya menggunakan penggaris atau jangka sorong (Soegiartono, 1991).
C. Analisis Data
Hasil yang diperoleh, dianalisis dengan Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui data terdistribusi normal dan atau tidak homogen. Data yang didapat tidak terdistribusi normal dan atau tidak homogen, sehingga data dianalisis secara statistik non parametrik menggunakan uji Kruskall-Wallis dan dilanjutkan uji Mann-Whitney dengan taraf kepercayaan 95%.BAB III - HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Determinasi Tumbuhan
Pada penelitian ini, cara determinasi rimpang temulawak dilakukan dengan berpedoman pada buku Flora of Java karangan Backer dan Van den Brink (1965) dengan cara mencocokkan morfologi tanaman dengan kunci-kunci determinasi dari rimpang temulawak yang ada di dalam buku tersebut.
Pembuatan ekstrak etanolik rimpang temulawak menggunakan metode maserasi. Hasil ekstraksi yang diperoleh dihitung rendemennya dengan menggunakan rumus :

- Homogenitas
Tabel III Hasil homogenitas krim ekstrak etanolik rimpang temulawak
Keterangan :
(+) = Homogen
- Daya Sebar
Gambar 3. Hasil daya sebar krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada konsentrasi 5% (Gbr. a), 10% (Gbr. b), 15% (Gbr. c), 20% (Gbr. d) dan 25% (Gbr. e).
Gambar 4. Histogram daya sebar krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada tiap formula. Formula I = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 5%, formula II = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 10%, formula III = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 15%, formula IV = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 20%, formula V = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 25%, kontrol negatif = basis krim, kontrol positif = Ristra acne cream®.
- Daya Lekat
Gambar 5. Histogram daya lekat krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada tiap formula. Formula I = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 5%, formula II = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 10%, formula III = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 15%, formula IV = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 20%, formula V = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 25%, kontrol negatif = basis krim, kontrol positif = Ristra acne cream®.
- Pemisahan
Gambar 6. Hasil pemisahan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada formula I = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 5%, formula II = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 10%, formula III = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 15%, formula IV = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 20%, formula V = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 25%, pada minggu ke- 4.
- Aktivitas Antibakteri
Gambar 7. Hasil aktivitas antibakteri krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada konsentrasi 5% (Gbr. a), 10% (Gbr. b), 15% (Gbr. c), 20% (Gbr. d) dan 25% (Gbr. e). Di antaranya meliputi: ekstrak etanolik rimpang temulawak (I), basis krim (II), dan krim ekstrak etanolik rimpang temulawak replikasi- 1 (III), replikasi- 2 (IV) dan replikasi- 3 (V).
Gambar 8. Histogram aktivitas antibakteri krim ekstrak etanolik rimpang temulawak pada tiap formula. Formula I = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 5%, formula II = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 10%, formula III = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 15%, formula IV = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 20%, formula V = krim ekstrak etanolik rimpang temulawak konsentrasi 25%, kontrol negatif = basis krim, kontrol positif = Ristra acne cream®.
BAB IV - KESIMPULAN
- Semua formula krim ekstrak etanolik rimpang temulawak dari konsentrasi 5% sampai 25% tetap homogen.
- Konsentrasi krim ekstrak etanolik rimpang temulawak berpengaruh pada daya sebar, sedangkan terhadap daya lekat tidak berpengaruh.
- Pada daya sebar krim yang sebanding dengan kontrol positif (Ristra acne cream®) yaitu konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Untuk daya lekat, semua konsentrasi krim sebanding dengan kontrol positif (Ristra acne cream®).
- Krim ekstrak etanolik rimpang temulawak yang mengalami pemisahan dari minggu ke- 1 sampai minggu ke- 4 adalah konsentrasi 5%.
- Krim ekstrak etanolik rimpang temulawak mempunyai aktivitas antibakteri mulai dari konsentrasi 10% sampai konsentrasi 25% dan sebanding dengan kontrol positif (Ristra acne cream®).
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, E., 2003, Khasiat dan Manfaat Temulawak, Cetakan I, 2-5, 7-12, 32-33, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Anonim, 2006, Temulawak Gingsengnya Indonesia, available at http://www.pikiranrakyat.com/rubik.htm diakses Nopember 2006, Jakarta.
Anonim, 2007, available at http://images.google.co.id/images/temulawak diakses September 2007.
Backer, C.A., dan Van den Brink, R.C.B., 1965, Flora of Java, Volume I, 565-569, N.V.P Noordhoff-Groningen, The Netherlands
Dwidjoseputro, D., 2003, Dasar-dasar Mikrobiologi, 41-43, Djambatan, Jakarta.
Dwikarya, M., 2002, Merawat Kulit dan Wajah, Cetakan V, 1-11, 33-35, 68-69, Kawan Pustaka, Jakarta.
Hidayat, S.S.S., dan Hutapea, J.R., 1991, Inventaris Tanaman Obat, Cetakan I, 192-193, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L., 1986, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd ed. 534, 619, Lea and Febiger, Philadelphia.
Rachdie, M., 2005, Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans Dan Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Agar, Proposal skripsi, available at http://skripsi.blogsome.com diakses Januari 2007, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
Soegiartono, O., 1991, Aktivitas Antibakteri Minyak Menguap Dari Curcuma longa L., Penelitian, Fakultas Farmasi universitas Gadjah mada, Yogyakarta.
Wasitaatmadja, M.S., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, 18, 30, 62, 63, 90, 91, 112, 113, 182, University Indonesia Press, Jakarta.
______________________________________________________________________
Berlangganan artikel ini :
Jangan lupa baca yang ini juga yaa...













5 comment:
Dicantumin dong range yang baik (SECARA TEORI) buat semua uji sifat fisiknnya....Ok....
mksd'nya gmn? smua uji fisik udh aq cantumin, aq emg cm pke uji homogenitas, daya sebar, daya lekat ama pemisahan. trz apa yg perlu di tambahin?!! (maaf, aku blm paham mksd km?!!)
irma anak farmasi yah... dita anak fkg, cuman di jakarta, hehehe...
hay irma, q pengin tau berapa berat simplisia kering untuk membuat ekstrak, berapa hasil ekstrak yang didapatkan setelah ekstraksi, trus kenapa kok pake etanol 96%. thanks
berat simplisia basah 11,400 g ; bobot serbuk rimpang 2,325 g ; trz bobot yg dihsilkan dlm bentuk ekstrak kental 270,4 g ; tp hasil tiap simplisia itu beda2,jd km hrz tau morfologi atau ciri2 simplisia yg akan km pke wat ekstrak. aq pke etanol 96% spy bs mndptkan ekstrak kurkumin dr temulawak, krn kurkumin sendiri bersifat non polar b'arti ga bs larut dlm air,,, mk dr itu aq pke etanol 96%.. sbnrnya klo mw pke kadar yg lbh bsr ato lbh kecil jg bs. t'gntung kbtuhan aja seh.. :D
Posting Komentar