dugder'an yukkk,,,,!!!


Wah, tar lagi dah mw puasa neh,,, seneng bgt deh :~
Soalnya kalo di daerah aku, tepatnya di kota Semarang yg biasa di sebut kota Atlas (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat :p) biasanya menjelang puasa (bulan suci Ramadhan) ada tradisi "Dugderan". Tradisi dugderan ini semacam kayak pasar malam (tapi sekarang pagi siang sore) dan sudah ada sejak se-abad yang lalu... :o (tua bgt ya,, aku lum lahir tuh bahkan ortu aku juga :O )
Ada sejarahnya lhooo, mau tau ga?!!! :t

Satu hari menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, Kota Semarang mempunyai suatu tradisi yang dinamakan “Dugderan” :d
Dahulu kala kaum muslimin dan muslimat menentukan hari mulainya puasa berbeda-beda antara faham yang satu dengan faham yang lain. Perbedaan pendapat dalam menentukan hari permulaan puasa ini menjadi perhatian yang berwajib, sehingga Bapak Bupati Semarang yang pada waktu itu dijabat oleh RMTA Purbaningrat pada tahun 1891 memberanikan diri untuk menentukan mulainya hari puasa.

Sebagai tanda bahwa esok hari dimulai menjalankan puasa, yaitu dengan dibunyikannya bedhug di Masjid Besar Semarang dan meriam di halaman Kanjengan (Kantor Bupati, kini berubah menjadi pertokoan dan bioskop Kanjengan Teater) sebanyak tiga kali.

Sudah tentu sebelum membunyikan bedug dan meriam sebagai tanda mulai puasa terdapat cara-cara dan upacara yang harus dilakukan, dengan pemimpin upacara Lurah (Kepala Desa). Adapun alat-alat yang disiapkan di Kabupaten sebelum pelaksanaan pembunyian bedhug dan meriam, antara lain :

  • Bendera, yang ada saat itu masih bendera penjajah (merah, putih, biru).
  • Karangan, bunga untuk dikalungkan pada dua pucuk meriam Kabupaten yang akan dibunyikan.
  • Obat Inggris dan kertas koran yang disiapkan pada meriam yang akan dibunyikan.
  • Gamelan sudah siap di beranda muka (pendopo) Kabupaten.
  • Petugas pembawa bendera oleh seorang mantri polisi, bertugas melambaikan bendera setelah mendapat isyarat yang diterimanya.
  • Petugas yang membunyikan meriam, bercelana panji-panji warna merah berstrip hitam, berbaju merah, memakai kain kepala hitam (wulung).
Upacara ini dilaksanakan pukul 15.30 WIB, Ki Lurah sebagai Ketua Upacara keluar diiringi para pengawal dan berhenti di muka meriam. Kemudian Ki Lurah berpidato dengan maksud dan tujuan untuk meminta selamat sehubungan akan tibanya hari puasa, agar nereka diberi kekuatan dan selamat oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Usai pidato Ki Lurah, pemukul bedhug sudah siap menunggu perintah di Masjid Besar, setelah perintah diberikan petugas memukul bedhug dengan keras (satu kali).

Setelah bedhug berbunyi, mantri polisi pemegang bendera yang sudah siap di depan meriam Kabupaten segera melambaikan bendera tanda meriam segera dibunyikan, dan petugas segera membunyikan meriam. Dua pucuk meriam itu dibunyikan tiga kali, yang sepucuk hanya sekali dan yang satu dua kali. Setelah meriam dibunyikan, gamelan Kabupaten segera dipukul, kemudian disusul dengan gending-gending bebas sampai waktu malam.

Dengan menggemanya suara meriam inilah maka rakyat Kota Semarang dan sekitarnya mengetahui bahwa permulaan puasa Ramadhan besok pagi harinya, sehingga masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk melaksanakannya. Karena perpaduan bunyi-bunyian tersebut, suara bedug “dug-dug-dug” dan meriam “der-der-der” maka orang Semarang menamakan tradisi itu dengan sebutan Dugderan.

Tanda-tanda lain sebelum dugder tiba pada masa itu muncul pedagang mainan dan para penghibur tiban, serta pengunjung dari berbagai penjuru kota tumplek bleg menikmati hiburan serba merakyat di alun-alun dan depan Masjid Agung Besar Kauman. Pedagang mainan tersebut menjajakan mainan dari gerabah (kasongan), truk-trukan, boneka dari kayu, dan yang tidak pernah ketinggalan penjual gangsingan dan warak ngendhog.

Suasana ini juga diramaikan dengan penjual makanan, ada martabak yang waktu itu terkenal sebagai Martabak Malabar, Soto Semarang Pak Yatin, bolang-baling, brondhong jagung, dan khas bergedel jagung. Ibaratnya belum melihat dugder kalau pulang tidak membawa bergedel jagung, gangsingan dan warak ngendhog.

Mainan Warak Ngendhog adalah mainan khas yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi Dugderan, dengan bentuk tubuh menyerupai kambing dan kepala berbentuk ular naga. Menurut sejarawan Amen Budiman (almarhum) hewan ini merupakan perpaduan antara binatang mitos Cina Naga dan Buroq dari Arab, dengan kata lain warak ngendhog sebagai simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang, mengingat kota yang didirikan Ki Ageng Pandanaran ini banyak bermukim etnis Cina.

boneka warak ngendhok yg terbuat dari kertas

Perayaan tradisi Dugderan ini sampai sekarang masih dilestarikan, tidak hanya dipusatkan di sekitar bekas Alun-alun dan Masjid Besar Kauman tetapi disebarluaskan ke sepanjang jalan Pemuda dan halaman Balaikota. Namun saat ini untuk para pedagang dugder dipusatkan di Polder Tawang untuk kelancaran lalu lintas. Untuk pelaksanaannya sama yaitu satu hari sebelum puasa Ramadhan dan dengan tata upacara yang hampir sama dengan bentuk aslinya.

Kini sebelum pelaksanaan acara ritual dugderan di Masjid Besar Kauman dilaksanakan arak-arakan karnaval dugderan dimulai dari Halaman Balaikota.

Dulu, waktu masih kecil (s'kitar 3 - 12 th) aku paling seneng kalo pergi ke dugderan, soalnya di sana pasti aku beli mainan alat2 masak yang terbuat dari tanah liat (secara aku cewek getoo :$ ). Selain itu banyak juga mainan yang lain, seperti kapal-kapalan yang nyalain'nya pake api trz bunyi'nya otok,otok,otok,otok,otok... :r :r :r, gangsing, mobil-mobilan dari kayu, patung2 hewan yang terbuat dari tanah liat (selain 'wat hiasan rumah, bisa juga wat celengan / ngumpulin recehan :D) trz msh byk lagi mainan modern lainnya. Pokoknya seru abizzz...



mainan alat-alat masak yang terbuat dari tanah liat (gerabah-red)



kapal "otok,otok,otok,otok,,,"

Dugderan mulai pindah ke Polder Tawang sejak tahun 2005. Setelah tiga tahun menempati kawasan Polder Tawang, untuk tahun 2008 ini tradisi dugderan yang selalu meramaikan Kota Semarang menjelang datangnya bulan Ramadan digelar di Jalan Gajah Raya atau di sepanjang jalan menuju MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) dari arah Jl. Arteri Soekarno - Hatta.

Betewe, sekarang jadi lebih deket dari rumah aku dunk :z :z :z :z :z :z :z :z :z :z :z

0 comment: